Header Ads

Saturday, November 27, 2021

BUKU DI MAYOR

 

Setiap guru adalah penulis. Namun tulisan yang dihasilkan bukan merupakan tulisan yang bisa menjadi konsumsi pembaca. Atau mungkin tulisannya tidak tersusun menjadi sebuah karya yang bisa ditularkan kepada pembaca selain dirinya. Ada tingkatan terkait dengan tulis menulis yaitu :

1.       I won’t do it.

2.       I can’t do it.

3.       I want to do it.

4.       How do I do it.

5.       I’ll try to do it.

6.       I can do it.

7.       I will do it.

8.       Yes, I did it.

Sebagai guru seharusnya punya motivasi untuk menjadi penulis dan harus sudah menempati level yang ke-8 yaitu “Yes, I did it”. Anggap saja sebagai guru sudah mencapai tataran tersbut. Maka selanjutnya perlu pengetahuan tetang bagaimana sesudah tulisan itu menjadi sebuah naskah yang pantas untuk dibukukan.

Perlu diketahui bahwa ada 4 stakeholders alur yang harus ditempuh. Keempat stakeholders tersebut adalah penulis, penerbit, penyalur, dan pembaca. Namun perlu diketahui juga bahwa kempat-empatnya merupakan sebuah ekosistem penerbitan.

Bagaimana sebuah naskah bisa berubah menjadi buku, tentu malalui serangkaian proses prjalanan yang pajang.

Proses (1) Naskah yang sudah jadi, setelah diserahkan kepada penerbit akan dilakukan peilaian terhadap naskah tersebut layak untuk diterbitkan atau tidak.

Proses (2) Asumsikan saja bahwa naskah tidak dikembalikan yang berarti diterima oleh penerbit sehingga penerbit memberitahu kepada penulis bahwa naskah akan diterbitkan. Penerbit minta softcopy kepada penulis serta menandatangani surat perjanjian, penerbit menunggu konfirmasi kesediaan penulis memenuhi permintaan.

Proses (3) Setelah naskah softcopy yang diminta disampaikan oleh penulis maka penerbit akan mengedit naskah tersebut. Termasuk yang diedit adalah berkaitan dengan bahasa (ejaan, tanda baca, istilah), kemudian men-setting (ukuran buku, ada hiasan atau tidak, tebal buku, fontasi). Selain itu, ada tim lain yang membuat cover disesuaikan dengan target market.

Proses (4) Setelah menjalani editing dan setting dicetak satu naskah proof sebagai sampel buku yang sama persis dengan buku yang akan dicetak banyak. Naskah proof tersebut dikirim ke penulis supaya dikoreksi akhir agar tidak ada kesalahan fatal. Bila naskah tinggal proof tetapi diubah total akan memakan waktu yang lama. Maka kalau mengirim naskah ke penerbit harus yang sudah jadi.

Proses (5) Proses berikutnya setelah naskah proof dikoreksi oleh penulis dan dinyatakan final maka dikirim kembali ke penerbit. Penerbit melakukan koreksi sesuai kemauan penulis dan  akan dibuatkan film yang akan ditempelkan di plat cetak. Satu kateren bisa 8 halaman, 16 halaman, atau lebih, tergantung ukuran buku. Tahap terakhir masuk ke mesin lipat, dipotong, dibending.

Pada akhirnya buku yang sudah dicetak akan berakhir di tangan pembaca. Pembacalah yang akan menilai buku tersebut bermanfaat atau tidak. Paling tidak ada indikator penulis yang bisa dikatakan berhasil yaitu akan memperoleh:

1.       Kepuasan

Mendapatkan kepuasan karena bisa berbagi gagasan, pemikiran, wawasan, pengalaman dengan orang lain yang mungkin bermanfaat.

2.       Reputasi

Reputasinya akan naik  karena bisa dikenal oleh siswa, guru, atau orang lain di tempat penyebaran buku. Web-nya banyak dikunjungi, orang bertanya, sosmed dikenal, mendapatkan subscribe. Kalau tak ada indikasi tersebut berarti bukunya tak laku.

3.       Karir

Dengan terbitnya bku maka akan mendapatkan nilai yang bisa untuk kenaikan pangkat, karena buku tersebut ada keterangan dari penerbit dengan ISBN nomor sekian.

4.       Uang

Kalau bukunya laku di pasaran maka akan mendapat royalty dari penerbit, semakin besar semakin berhasil. Kalau hanya di pajang di toko buku yang rugi penerbit.

Sebenarnya indikator buku itu akan sukses atau tidak, sudah kelihatan di awal dalam proses penilaian oleh penerbit. Sistem penilaian penerbit yang digunakan sebagai analisis ketersuksesan sebuah buku:

1.       Editorial dengan bobot 10%

Editorial yang menyangkut berbagai aspek ternyata hanya berbobot 10 persen dari keseluruhan tingkat kesuksesan.

2.       Peluang Potensi Pasar dengan bobot 50%

Peluang pasar dalam hal ini pangsa pasar atau pembaca sasaran adalah penyumbang bobot terbesar kesuksesan sebuah buku menurut penerbit.

3.       Keilmuan dengan bobot 30%

Tingkat kedalaman ilmu buku yang dicetak memiliki bobot kedua terbesar tingkat kesuksesan menurut analisis penerbit.

4.       Reputasi Penulis dengan bobot 10%

Ternyata reputasi penulis hanya menyumbangkan kesuksesan buku yang sama bobotnya dengan editorial.

Bagi penerbit kesuksesan buku sangat diharapkan karena akan memberikan keuntungan yang besar. Oleh karena, itu penerbit menganalisis berdasarkan kuadran katergori naskah untuk menentukan oplahnya.

Proses penerbitan tidak lepas dari jumlah cetak (oplah). Jumlah cetak tergantung dari posisi buku berada di kuadran mana. Pada gambar 2 dibaca searah jarun jam

1.       Tema tidak populer tetapi penulis populer maka akan terjadi market sempit lifecycle panjang. Penerbit tidak rugi tetapi laku tertunda,karena buku laku sepanjang masa meskipun tak di update, tak direvisi. Bahkan penulisnya sudah meninggal tetapi masih laku karena buku-buku tentang ilmu murni misal matematika dasar, fisika dasar, dll. yang tak akan berubah teorinya. Buku-buku ini bisa dicetak dengan jumlah menengah karena kalau terlalu banyak akan numpuk di gudang.

2.       Tema populer penulisnya juga populer, ini peluang paling diharapkan penerbit karena sama-sama panjang baik market maupaun lifecycle. Buku yang paling disukai penerbit karena buku-buku semacam itu selalu laku dalam jumlah besar. Misal ensiklopedi komputer, ensiklopedi tokoh dunia, ensiklopedi pramuka, kamus komputer dsb.

3.       Tema populer tetapi penulisnya tidak populer maka analisisnya market lebar tetapi lifecycle pendek. Ini cocok bagi penulis pemula disarankan. Yaitu buku-buku tergantung perkembangan teknologi seperti buku informatika, buku komputer. Sekarang buku dicetak bulan depan ada rilis baru, maka buku itu tak laku maka harus direvisi supaya laku. Buku cetakan yang lama biasanya dimusnahkan penerbit supaya tak menimbulkan biaya gudang.

4.       Tema tak populer demikian juga penulisnya tak populer maka pasti ditolak penerbit. Biasanya berita-berita harian, mingguan.

Tema yang sedang dibutuhkan masyarakat itulah yang dinamakan tema populer. Untuk mengetahui tema itu populer atau tidak maka dicari di google trend. Sedangkan untuk mencari peluang pasarnya lihat grafisnya cenderung naik, turun, atau stabil. Kalau stabil di atas berarti punya peluang yang bagus. Perlu diperkirakan juga sampai kapan peluang itu ada. Yang paling enak adalah buku pelajaran yang akan selalu laku di awl semester.

Untuk megetahui reputasi penulis dapat dilihat di  (kala dosen) google schooler atau google cendekia akan kelihatan sudah punya karya berapa buku, berapa jurnal. Karya-karya yang dihasilkan banyak dibaca atau dicari orang atau belum, sudah banyak dikutip atau belum. Yang bisa dipertanggungjawabkan apabila minimal disitasi 2000x oleh pembaca. Kalau guru pernah menulis buku belum, tracks record-nya bagaimana, mengajar mata pelajaran apa saja, pendidikannya bagaimana, komunitasnya seperti apa, kalau medsos blog-nya bagus pengikutnya (banyak) merupakan peluag pasar, atau di FB jadi admin grup yang anggotanya ribuan juga merupakan peluang besar.

Selain itu penerbit juga tak pernah melihat dan mempedulikan seligkung apapun yaag penting gaya selingkung dalam satu naskah itu konsisten di awal pakai gaya (American Psychology Association) APA diakhir pake gaya APA, kalau di awal (Michigan Language Association) MLA sampai akhir tetap MLA.

Dari sekian banyak penulis, ada yang mempunyai sifat idealis ada nada yang industialis. Penulis yang idealis cenderung tak butuh duit, tak pernah tanya royalty dll. Misalnya punya masalah dengan penerbit tentang judul buku yang kurang bagus walaupun kontennya sangat bagus. Tetapi judul tak boleh diganti karena bisa mengubah persepsi.

Sebenarnya penulis idealis itu dulunya penulis industrialis (yang semata-mata tentang uang, finansial) tetapi sejalan dengan berjalannya waktu berubah menjadi penulis idealis. Biasanya para guru besar yang memiliki visi idealis karena konten keilmuannya tinggi. Padahal penerbit lebih memilih buku dengan konten dasar yang punya pangsa pasar pembaca cukup luas. Karena keuntungan penerbit jika laku lebih dari 3.000 eksemplar.

Sebelum calon buku diterbitkan terlebih dahulu melalui proses administrasi. Proses menggambarkan ststus naskah sampai dimana. Yang biasa dintanyakan adalah royalty. Padahal royalty diberikan apabila buku sudah laku dan diberikan persemester.

Penerbit Andi menerima naskah buku senabanyak 300 sampai 600 naskah perbulan. Padahal naskah yang diterima hanya 40-60 naskah. Naskah yang diterima itu :

1.       Naskah yang diterbitkan yang laku di pasar menurut analisis penerbit;

2.       Naskah terbit berdasarkan Mou antar lembaga, jadi harus ada lembaga yang menaungi penulis misal PGRI;

Kalau bukan skema 1 atau 2 maka buku dapat diterbitkan apabila:

3.       Naskah terbit berdasar Mou perorangan;

4.       Naskah terbit berdasar Program Andi Pro Litersai, Penulis meyediakan dana 10 jt. Buku tak diedarkan tetapi dijual dalam bentuk e-book.

Dalam menulis buku harus melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar cepat dan aman.

Langkah pertama : membuat buku Sinopsis (di cover belakang) yang ditulis dalam sebuah paragraf berisi  :

1.       Konten buku secara singkat apa saja yang menarik dalam buku itu;

2.       Prasarat untuk membaca buku yaitu buku itu untuk SD, SMP dst. Jurusan apa

3.       Tujuan buku ditulis  supaya apa pembaca itu, golnya apa,

4.       Konsumen siapa yang dituju apa ibu-ibu se-Indonesia

Langkah kedua :

1.       Menentukan tujuan penulisan buku lebih detail dan lebih dalam.

2.       Membuat kerangka karangan/outline berupa daftar isi. Daftar isi dibuat dulu agar tahu progresnya. Jangan menulis buku kalau daftar isinya belum jadi.

Langkah ketiga : membuat tujuan dan manfaat lebih dalam dan lebih luas. Dijelaskan angka-angka lebih jelas sasaran pembaca dari sisi apa buku ini menang dari buku pesaing. Dipakai untuk siapa ada berapa. Misal untuk siswa SD, siswa SD seluruh Indonedia ada berapa dst.

Langkah keempat : Mejelaskan tujuan buku untuk siapa (pembacanya) dan bagaimana. Dihalaman paling akhir buku yang ber-ISBN akan didokumentasikan di Perpusnas.

Langkah kelima : Lembar tentang penulis disesuaikan konten buku dana ditulis dalam 1 paragraf.

Tidak ada satu judul buku pun di dunia yang ditulis dan diterbitkan tanpa referensi buku yang lain, jika menulis satu judul buku hanya dengan 1 referensi buku yang lain disebut plagiator. Jika menulis satu judul buku dengan banyak buku yang lain disebut riset. Tapi belum ada aturan jumlah buku referensi, semakin banyak semakin bagus. Cara mengutip buku itu yang disebut selingkung harus tertib.

No comments:

Post a Comment

TERIMA KASIH