RESUME
Resume merupakan
bentuk ringkasan atau rangkuman dari sebuah karangan atau tulisan panjang yang
dipersingkat dengan cara dipangkas. Menurut
translate di google berarti ringksasan, ikhtisar, singkatan, rangkuman, simpulan. Resume adalah suatu metode yang efektif untuk
menyajikan suatu karya atau data yang panjang menjadi lebih singkat dan padat.
Yaitu dengan cara mengambil bagian-bagian pokok yang lebih ringkas dan membuang
uraiannya. Resume hanya
mengambil beberapa bagian yang penting hanya bagian pokok serta menyisihkan
beberapa bagian rincian dan juga ilustrasinya. Resume
tidak boleh berbeda dari data karya aslinya. Dengan
demikian maksud dari resume tidak
lain dan tidak bukan adalah bentuk ringkas dari paparan yang tersaji atau
disampaikan.
Cara Membuat
Resume
Sebenarnya
cara membuat resume bisa dikatakan
mudah jika sudah terbiasa. Apalagi jika pembuat resume suka membaca dan mudah
memahami bacaan. Paling tidak ada 4 langkah yang harus ditempuh dalam membuat
resume.
Bila membaca sekali belum mampu memahami isinya dengan baik, maka harus
dibaca berulang-ulang. Istilah, kata, atau idiom dan semacamnya yang belum
dipahami, maka perlu digarisbawahi untuk kemudian dicari
artinya. Hal itu dilakukan agar benar-benar mendapatkan
pemahaman yang baik dan sempurna.
Setiap paragraf mempunyai gagasan utama. Gagasan
utama yang sudah ditemukan diberi tanda (dalam naskah) atau dicatat apabila
materi lisan. Dalam naskah tulis dilakukan ketika membaca pertama. Biasanya gagasan
utama ini berada pada awal paragraf karena biasanya penulis menggunakan jenis
paragraf deduktif.
3. Reproduksi
Setelah langkah pertama dan kedua selesai, selanjutnya
mereproduksi atau menulis kembali gagasan-gagasan utama yang sudah ada dengan
merangkaikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Uraian ini diusahakan dengan bahasa
sendiri bukan bahasa penulis atau penutur asli.
4. Editing Resume
Setelah resume selesai, perlu memeriksanya kembali untuk
memastikan tidak ada kesalahan-kesalahan seperti kesalahan penulisan ejaan,
tanda baca, tata bahasa dan lain-lain, semuanya harus diteliti.
Narasumber
dalam sebuah pelatihan misalnya menyajikan materi selama 2 jam, disertai dengan
slide, dan ditambah dengan tanya
jawab. Apakah dalam resume kata-kata
lisan harus di translite menjadi
tulisan? Tentunya tidak. Jadi pembicaraan selama 2 jam disertai dengan
penyajian slide dan tanya jawab akan
menjelma menjadi sebuah resume yang
mungkin hanya satu lembar halaman kertas. Namun isi dari resume tersebut sudah mencerminkan dari keseluruhan materi yang
disajikan.
Lebih
konkretnya dapat lihat abstrak dalam skripsi atau tesis. Bagaimana penyajian
abstrak yang hanya satu lembar tetapi sudah mewakili sekian puluh bahkan ratus
halaman skripsi atau tesis. Sinopsis novel juga merupakan sebuah resume.
Menulis resume tidak lah semudah menulis uraian
narasi yang panjang dengan penjelasan yang rinci serta alasan dan dasar teori
maupun hukum. Menulis resume
membutuhkan ketelitian terutama dalam merangkai kata dan menyatukan kalimat
agar menjadi sebuah paragraf yang utuh. Lebih kerennya harus memiliki kohesi
dan koherensi bukan hanya deretan kata kata yang justru membingungkan dah
bahkan mengaburkan makna.
Menulis resume sebenarnya adalah reproduksi dari
garis-garis besar atau topik-topik yang disajikan oleh pembicara atau uraian
tulisan. Sehingga materi yang berupa tulisan akan lebih mudah dibuat resume-nya daripada resume yang berupa materi lisan. Selain kelebihan tulisan yang bisa
dibaca berulang-ulang, pada tulisan juga bisa diberi tanda pada bagian
topiknya. Sedangkan materi yang disampaiakn secara lisan pendengar atau audience harus membuat catatan-catatan
yang berisi topik-topik yang disampaikan.
Mereproduksi
topik-topik bahasa lisan merupakan kegiatan merangkai kata-kata kunci dari
catatan-catatan tersebut menjadi kalimat. Sesudah menjadi kalimat dirangkai
menjadi paragraf. Selanjutnya paragraf satu dengan yang lainnya juga harus
memiliki keterkaitan agar menjadi sebah kesatuan.
Pada kegiatan
pelatihan atau seminar setelah penyajian materi biasanya dilanjutkan dengan
sesi tanya jawab. Ini akan lebih sulit daripada pembuatan resume bahasa lisan. Tanya jawab yang dilaksanakan oleh pembicara
dan audience tidak akan sesuai dengan
urutan materi yang disampaikan oleh pembicara. Oleh karena itu, jawaban harus
dikelompokkan terlebih dahlu sebelum dijadikan resume. Baru sesudah terkelompokkan bisa dijadikan resume.
Sumber :
KBBI offline
No comments:
Post a Comment
TERIMA KASIH