Header Ads

Monday, November 22, 2021

DAPUR PENERBIT

 Dapur klasik biasanya terletak di bagian rumah. Penuh dengan perabotan yang tertata kurang rapi. Banyak barang yang sengaja disembunyikan agar kelihatan agak rapi. Bau dapur juga kurang sedap. Lalu dilengkapi dengan blower untuk mengeluarkan bau dan asap yang tak diinginkan. Penghuni dapur juga tak kalah penampilannya. Biasanya penghuni dapur hanya mengenakan pakaian seadanya, bahkan ada yang sudah robek tak dihiraukannya. Terkadang yang bekerj di dapur belum sempat mandi atau memang mandinya sesudah selesai mendapur.

Berbeda dengan dapur moderen. Letak dapur tak selalu di bagian belakang rumah, ada yang di samping, di depan, atau ada yang dekat ruang tamu sekalian. Perabot yang menyertai dapur juga berbentuk sangat artistic sehingga enak dipandang. Dengan demikian, perabot tak perlu harus menempati ruang yang tersembunyi. Masakan yang dihasilkan juga tak seperti dapur klasik. Sajiannya enak dipandang karena dengan disertai dengan hiasan yang boleh dimakan. Penghuni dapur moderen juga berpenampilan tak memalukan. Dandanan penghuni dapur juga menarik dan siap menerima pandangan.

Dapur adalah tempat memasak makanan sebelum disajikan kepada pelanggan. Di dapurlah yang tadinya barang mentah dioah menjadi suatu yang baru yang dapt dinikmati. Di dapur selain ada alat-alat yang digunakan untuk memasak juga ada orang yang menjalankan kegiatan memasak yaitu juru masak. Sang juru masak juga dibantu oleh beberapa orang yang bertugas menyediakan bahan-bahan yang akan dimasaknya.

Demikian dengan sebuah buku yang bisa diibaratkan sebuah masakan yang sebelum disajikan kepada pelanggan dalam hal ini pembaca, pastilah melalui proses yang tidak singkat dan tidak mudah. Apalagi dapur yang digunakan adalah dapur moderen yang segalanya dapat langsug diketahui oleh calon pembaca.

 Untuk menerbitkan buku, penerbit mayor tidak kekurangan bahan baku yaitu berupa tulisan bai dari penlis yang sudah kawakan maupu penulis pemula. Ibarat bahan baku, naskah yang masuk ke dapur penerbit perlu diseleksi. Bahan bagus belum tentu disukai oleh pembaca, demikian sebaliknya bahan yang kurang bagus namun bisa disukai oleh pembaca karena bertema yang baru ngetren. Penerbit buku di bawah IKAPI adalah penerbit yang mementingkan UUD (Ujung-ujungnya Duwit) untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara otomatis cash flow akan terganggu, apabila intensitas  terbitan bukunya berkurang, akhirnya berimbas pula ke jumlah produksi buku.

Penerbitan, yang sering digunakan untuk menyebutkan penerbit mayor dan penerbit minor (indie) pada dasarnya konsep penerbitannya sama, yaitu mempublikasikan hasil tulisan dari penulis yang menjadi mitranya.

Konsep dasar penerbitan adalah memberikan layanan industri, dalam menerbitkan atau mempublikasikan hasil tulisan karya tulis dari penulis. Penerbit hanyalan intermediary atau perantara dalam proses publikasi sebuah tulisan. Tugas penerbit adalah menghasilkan keuntungan dalam setiap terbitannya. Yang membedakan jenis penerbit adalah jumlah atau skala produksi setiap penerbit yang tergabung dalam anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tersebut.

Skala produksi ini tercermin dalam ISBN setiap buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut. Melalui ISBN ini dapat diketahui penggolongan skala produksi buku yang dihasilkan setiap tahunnya. ISBN dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional, yang diberikan hak oleh negara untuk memberikan nomor-nomor yang dikuasainya tersebut untuk dibagikan kepada penerbit di Indonesia.

Struktur penomoran ISBN, angka di publication element tersebut adalah jumlah produksi buku yang dapat dilakukan oleh penerbit tersebut. Melalui angka ini terlihat berapa kekuatan produksi buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit. Secara materi terbitan, sebenarnya tidak ada bedanya antara penerbit mayor dan minor. Hanya terkadang penerbit tertentu memilih spesialisasi pada genre tertentu untuk lebih fokus dalam produksi maupun pemasarannnya. Secara otomatis. karena jumlah produksi cukup besar, akhirnya penerbit mayor mempunyai saluran pemasaran yang cukup beragam yang sering disebut Omni channel Marketing selain tentunya outlet di Toko Buku.

Yang unik selama pandemi adalah saluran toko buku mengalami kontraksi yang cukup dalam, sehingga saluran outlet toko buku pun menyesuaikan dengan berpindahnya proses pemasaran ke sistem online, maupun digitalisasi materi dalam bentuk media lain selain tulisan. Tantangan ini cukup berat bagi penerbit-penerbit dengan skala kecil, yang hanya menggantungkan outlet-nya di toko buku. Karena imbas dari Lock Down diberbagai sentra ekonomi, menjadikan saluran penjualan buku semakin sulit bejualan. Media-media baru sebagai sarana promosi buku pun berkembang seperti channel Webinar, Podcast, IG Live, WA Group mejadi media promosi yang luar biasa berkembang.

Penguasaan Teknologi

Di masa yang akan datang buku fisik masih akan tetap bertahan. Hanya proses pemasarannya yang berubah mengikuti zaman. E-book akan tetap menarik karena konsep praktis, ramah lingkungan, dan menjanjikan keterbukaan dalam menerima media-media lain sebagai media pengayaannya. Google dengan sigap juga telah mencoba peruntungannya di era digital ini, yaitu dengan Google Books-nya menjadikan konsep digitalisasi e-book sudah mencapai ke industrialisasi digital masa depan.

Tantangan penerbit baik mayor maupun minor, adalah kecepatan dalam menguasai teknologi ini ke depan. Dengan konsep multimedia, pengawinan antara media-media baru, menjadikan buku akan semakin mengecil secara fisik. Apalagi ada konsep baru dalam dunia digital yaitu konsep Metaverse yang diusung Face Book, dunia digital akan semakin kaya.

Penguasaan tekonologi harus cepat dikuasai, sehingga media buku di Indonesia akan semakin maju dalam mengikuti perkembangan zaman. Buku akan diperkaya dengan media-media lain, yang akan saling mengisi kelemahan secara alamiah media-media tradisional tersebut.

E-book saat ini baru mencapai pertumbuhan 4% saja, sehingga belum dapat dijadikan sumber utama bagi penerbit-penerbit buku. Saat ini proses pemasaran saja yang bergeser shifting ke digital seperti jualan di market place buka lapak, Shopee, Blibli, dan lain-lain dalam mempromosikan buku fisik. Peluang digitalisasi buku ini memang semakin terlihat, apalagi dikawinkan dengan berbagai macam media yang lain. https://www.pbuandi.com/?view=flipcard ini hanya katalog e-book siapa tahu dapat memberikan gambaran ke depan bagaimana e-boook dipasarkan. Ini contoh buku digital yang berdampingan dengan buku fisik di toko buku. Nikmati 25 halaman sampel buku tersebut, jika tertarik dan punya saldo di dompet digital bisa langsung membelinya, file secara aman akan tersimpan di gadget bapak ibu, dan di enkripsi oleh google sehingga aman dan tidak dapat di sharing. Kolaborasi antara buku fisik, digital, media yang lain akan semakin menyatu.

Sebagai penulis, harus memberikan pengayaan-pengayaan tidak hanya kemampuan tulis belaka. Akan tetapi pengembangan di sisi penulis harus diberdayakan. Seperti penulis mempunyai Blog, Channel Youtube, Twitter, Podcast, bahkan Tiktok yang dapat dijadikan sarana promosi tulisan bukunya. Hal ini akan memberikan rangsangan penerbit untuk tidak mampu menolak tulisan penulis karena follower-nya banyak, menjadi selebriti di Youtube, atau selebriti Tiktok. Materi tulisan tidak akan melulu dijadikan alasan penerbit dalam menerbitkan buku, akan tetapi kemampuan penulis dalam membantu mempromosikan tulisanlah yang menjadi primadona penulis-penulis baru, di aplikasi Wattpad, follower pembaca biasanya dipantau oleh penerbit-penerbit mayor.

Persaingan penerbit akan semakin keras, tidak memandang penerbit mayor maupun minor. Hal ini karena ke depan proses penerbitan bisa dilakukan sendiri oleh penulis. Lihat saja bang Tere Liye yang dapat memproduksi sendiri tulisannya melalui Google Books. Persaingan penerbit tidak hanya antarpenerbit akan tetapi dengan digitalisasi yang menjadikan persamaan derajat antara penulis, penerbit, penyalur, dan pembaca buku.

Genre tertentu penulis dapat bermain sendiri memproduksi bukunya. Pintar-pintar penulis dalam mengelola tulisannya. Ada yang dapat dikerjakan sendiri, ada dapat berkolaborasi penerbit baik minor maupun mayor. Semua akan jalan dijalannya masing-masing dan tidak akan saling berebut akan tetapi tetap menghasilkan keuntungan. Akhirnya, semua unsur dunia penerbitan akan menjadi lebih berwarna dan saling menguntungkan dari penulis, penerbit, hingga pembaca buku dengan terbentuknya dunia digital yang cukup menjanjikan ke depan.

Sebagai penulis harus peka dengan isue-isue baru mata pelajaran-matapelajaran baru, seperti enguatan Pancasila, Attitude Pelajar, Softskill dan lain-lain. Tema-tema tersebut sangat dicari saat ini, sehingga peluang apabila mengangkat tema itu akan sangat diminati penerbit, sehingga tidak tertinggal dalam menyajikan penawaran tulisannya kepada penerbit dan tawarkan proposal tulisan ke penerbit.

Kepandaian mengajar di depan kelas, merekam proses belajar di depan kelas, ceritakan prosesnya, adaptasinya, kesan murid dalam belajar akan menjadi sebuah tulisan yang menarik. Tuliskan di face book untuk merekam kejadiannya sehingga tidak terlupakan.

 

 

No comments:

Post a Comment

TERIMA KASIH